Pendidikan Sejarah Dalam Upaya Merespon Globalisasi Dan Westernisasi

Posted by

PENDIDIKAN SEJARAH DALAM UPAYA MEMANUSIAKAN MASYARAKAT INDONESIA DALAM RANGKA MERESPON GLOBALISASI DAN WESTERNISASI
Berawal dari sebuah kondisi dimana generasi muda bangsa diterpa dengan serangkaian proses globalisasi dan westernisasi tanpa adanya filteralisasi budaya.  Perlu diketahui globalisasi ini erat kaitannya dengan westernisasi, dapat dikatakan setiap proses globalisasi selalu diikuti oleh westernisasi. Globalisasi menurut Martin Albrow ialah semua proses yang berhubungan dengan penyatuan antara masyarakat (all the peoples) menjadi satu masyarakat dunia (single world society).  Sedangkan westernisasi ialah proses penetrasi budaya barat ke dalam suatu susunan kehidupan suatu Negara. Beberapa ahli mungkin berbeda dalam menguraikan pendapatnya mengenai globalisasi, seperti contohnya Kenichi Ohmae berpendapat pada dasarnya globalisasi ini menurutnya merupakan upaya mewujudkan dunia tanpa batas yang didalamnya tersimpan rencana-rencana Negara-negara kapitalis untuk mengekploitasi Negara-negara berkembang, atau secara tersirat bahwa menurut pendapatnya globalisasi menghendaki dunia tanpa adanya batas yang membatasi lalu lintas untuk kehidupan internasional terutama dalam aspek perekonomian. Namun apa yang coba saya jelaskan pada kesempatan kali ini mungkin lebih terfokuskan kepada kajian pendidikan sejarah sebagai upaya memanusiakan mansyarakat Indonesia dalam merespon globalisasi dan westernisasi.

Globalisasi dan westernisasi ini dapat dikatakan seperti sebuah koin dengan dua sisi yang merepresentasikan makna yang berbeda, di sisi positif akan membawa kemajuan yang cepat dalam penggunaan teknologi, berkembangnya ilmu pengetahuan, menyebar dan mudahnya sarana informasi untuk tujuan komersial maupun edukasi, membuka peluang untuk industry-industry kreatif, gaya hidup cepat dan praktis, dan sebagainya. Namun, disisi lain dampak negative yang akan ditimbulkan ialah jika tidak ada filtrasi, budaya barat yang masuk ke dalam susunan masyarakat akan merubah pola hidup dan kebudayaan masyarakat tersebut. Seperti contohnya masyarakat Indonesia yang awalnya memegang teguh prinsip gotong royong lambat laun berubah menjadi individualis, serta perilaku perzinahan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa. Sebelum saya menjelaskan bagaimana peranan sejarah dalam upaya pemanusiaan masyarakat Indonesia, saya akan menjelaskan latar belakang westernisasi dan bagaimana akibatnya. Berikut penjelasannya.


|Pertama, kenapa globalisasi erat kaitannya dengan westernisasi? Dan kenapa harus budaya barat?|


Sejarah mencatat, sejak perang salib, bangsa barat mengalami kekalahan dari orang-orang muslim, maka dari itu mulailah periode baru dalam kehidupan bangsa barat yang dinamakan dengan periode Renaissance. Renaissance yang bermula sejak abad ke-14 sampai dengan abad ke-17 ini membawa semangat dan perubahan baru bagi bangsa barat, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa bangsa barat menuju sebuah kemajuan. Kemudian Industrial Revolution yang membawa bangsa barat menuju modernisme yang ditandai dengan digantinnya tenaga manusia menjadi tenaga mesin dan munculnya faham kapitalisme. Berbeda dengan kondisi di barat saat itu, masyarakat di bagian timur justru mengalami kemunduran secara bertahap, hal ini karena perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang stuck ditambah dengan permasalahan-permasalahan internal yang terjadi di Negara-negara timur. Selain itu faham kapitalisme membuat kolonialisme bangsa barat di wilayah bumi sebagian timur kian meluas, entah itu untuk tujuan ekonomis ataupun untuk tujuan politis untuk bersaing dengan Negara saingan. Disisi lain kondisi kontemporer dari mulai abad ke-19 hingga abad ke-21 ini Negara-negara barat sebagian besar sudah dikatakan Negara maju, berbeda dengan Indonesia atau Negara timur lainnya yang masih dikatakan Negara berkembang. Memang dalam hal ini tuntutan ekonomi menjadi salah satu faktor munculnya globalisasi, hal itu diperkuat oleh pendapat menurut Immanuel Wallerstein yang menyebutkan bahwa globalization represent the triumph of a capitalist world economy tied together by a global division of labour. Artinya; bahwa globalisasi mewakili kejayaan kapitalisme perekonomian dunia yang berkaitan dengan divisi kerja global. Dan ketika sebuah Negara ikut dalam sebuah kompetisi yang disebut dengan globalisasi ini maka bukan hanya aspek ekonomi saja yang terkena dampaknya, aspek sosial dan juga budaya akan terkena dampaknya karena bebasnya interaksi kedua Negara. Begitupula yang terjadi di Indonesia, westernisasi tercermin dengan munculnya gaya hidup baru seperti dalam bidang fashion, gaya bahasa, dan tentu saja merebaknya perilaku pragmatism, hedonism dan konsumerisme.

|Kedua, kenapa Indonesia mudah terkena westernisasi?|
            Menurut saya, kita bisa samakan globalisasi dan westernisasi ini sebagai sebuah istilah yang merujuk kepada kolonialisme budaya. Kolonialisme budaya berbeda dengan kolonialisme biasa, kolonialisme pada umumnya ialah cara bagaimana cara menguasai suatu Negara dan biasanya ditandai dengan pengeksploitasian sumber daya alam di negeri jajahan. Kolonialisme budaya ini sifatnya ialah merubah jati diri atau identitas budaya suatu Negara. Ketika suatu identitas bangsa hilang maka bangsa tersebut diambang sebuah kehancuran. Kolonialisme budaya ini dapat terlihat dari memudarnya budaya bangsa karena intervensi dari budaya asing yang masuk. Kita bisa analogikan bahwa westernisasi ini merupakan budaya asing yang berusaha masuk kedalam tatanan budaya masyarakat kita. Dan kenapa bisa masuk? Menurut kajian teori, menurut salah satu poin dalam teori gerak siklus sejarah Ibnu Khaldun disebutkan bahwa biasanya kelompok-kelompok yang terkalahkan akan selalu mengekor kepada kelompok-kelompok yang menang, baik dalam slogan, pakaian, kendaraan maupun tradisi lainnya (Supardan, 2009:358).

            Analogikan bahwa intervensi yang diberikan oleh westernisasi ini lebih kuat daripada budaya bangsa yang dimiliki oleh setiap masyarakat Indonesia. Akibatnya budaya nasional perlahan demi perlahan luntur dan tergantikan oleh budaya barat yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai bangsa. Hal ini dipengaruhi oleh gagalnya lunturnya ideologi pancasila sebagai filter, karena sejak keruntuhan rezim orde baru, masyarakat mempunyai sikap apatis dan enggan membicarakan Pancasila, karena Pancasila dianggap gagal membentuk watak manusia Indonesia seutuhnya. Faktor lain yang menyebabkan kenapa Indonesia mudah dimasuki westernisasi ialah karena sebelumnya masyarakat Indonesia kurang penguasaan dalam perkembangan IPTEK, dan karakteristik bangsa yang konsumtif terhadap produk-produk luar negeri.

            Dari penjelasan diatas jelaslah sudah apa yang ditimbulkan oleh westernisasi, sekarang bagaimana solusi dalam merespon tantangan tersebut?
            Indonesia memang tak bisa menghentikan globalisasi dan juga westernisasi. Namun solusi untuk meminimalisir dampak dari kedua hal tersebut masih bisa dilakukan meskipun memerlukan waktu yang lama dengan usaha yang tidak sedikit. Berkaitan dengan upaya memanusiakan masyarakat Indonesia dalam merespon globalisasi dan westernisasi ini, solusi yang ditawarkan ialah reformasi dalam bidang pendidikan.
            Memanusiakan manusia Indonesia memang berkaitan dengan proses pendidikan, intinya bagaimana cara pemerintah Indonesia berusaha untuk mewujudkan generasi muda yang berkarakter bangsa dan mampu bersaing di era globalisasi ini. Berkaitan dengan  hal tersebut menurut Wuradji (1988) mengenai fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat menyatakan bahwa pendidikan sebagai lembaga konservatif mempunyai tugas diantaranya ialah fungsi sosialisasi dan fungsi pelestarian budaya masyarakat. Fungsi sosialisasi disini ialah dimana pendidikan diharapkan mampu berperan sebagai proses dalam  menginternalisasi nilai-nilai budaya masyarakat kepada generasi muda. Sedangkan fungsi pelestarian budaya masyarakat ini  berkaitan dengan kurikulum pendidikan yang memuat unsur-unsur muatan lokal dengan tujuan untuk membuat peserta didik lebih cinta kepada daerah serta tanah airnya.

             Pengertian diatas bahwa fungsi pendidikan ialah menjaga atau membentuk identitas masyarakat Indonesia sebagaimana tertera dalam tujuan pendidikan nasional. UU no 20 tahun 2003 pasal 2 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
            Idealnya apa yang ingin dicapai oleh semua proses pendidikan di Indonesia ialah seperti tertera diatas, namun sekarang permasalahannya bagaimana peran pendidikan sejarah dalam mewujudkan fungsi pendidikan sebagai lembaga konservatif serta bagaimana pendidikan sejarah merespon tantangan globalisasi dan westernisasi yang telah disebutkan diatas.

            Berkaitan dengan sejarah dalam kaitannya dengan pendidikan, menurut Sam Wineburg dalam Supriatna (2013 :1) berpandangan bahwa masa lalu bisa diibaratkan tanah liat, sehingga masa lalu kita bengkak-bengkokkan sekehendak hati kita gar sesuai dengan makna yang telah lebih dahulu kita tentukan baginya. Selain itu Wineburg menilai bahwa sejarah itu perlu diajarkan di sekolah karena memiliki potensi untuk menjadikan manusia berkeperikemanusiaan. Menurutnya dengan strategi yang tepat dalam memahami nilai-nilai sejarah, pembelajaran sejarah dapat mempertinggi sikap kritis dan daya kreatif bangsa terutama untuk menjawab berbagai tantangan bangsa pada masa kini.

            Hakikat pendidikan sejarah menurut Dennis Gunning secara umum pengajaran sejarah bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik, dan menyadarkan peserta didik untuk mengenal diri dan lingkungannya, serta memberikan perspektif historikalitas. Sedangkan secara spesifik, lanjut Gunning, tujuan pengajaran sejarah ada tiga yaitu, mengajarkan konsep, mengajarkan keterampilan intelektual, dan memberikan informasi kepada peserta didik. Dengan demikian, pengajaran sejarah tidak bertujuan untuk menghafal pelbagai peristiwa sejarah. Keterangan tentang kejadian dan peristiwa sejarah hanyalah merupakan suatu tujuan. Sudah barang tentu tujuan di sini dikaitkan dengan arah baru pendidikan modern, yaitu menjadikan peserta didik mampu mengaktualisasikan diri sesuai dengan potensi dirinya dan menyadari keberadaannya untuk ikut serta dalam menentukan masa depan yang lebih manusiawi bersama-sama dengan orang lain. Dengan kata lain adalah berupaya untuk menyadarkan peserta didik akan historikalisasi diri dan masyarakatnya. Namun yang paling penting ialah bagaimana cara mengaktualisasikan nilai-nilai yang terdapat dari sebuah peristiwa sejarah dalam kehidupan sehari-hari, karena pada dasarnya sejarah tidak berfungsi pada proses pendidikan apabila nilai-nilai sejarah tersebut belum terwujud dalam perilaku yang nyata.

            Permasalahan yang ada sekarang, apakah pendidikan sejarah sudah secara optimal menjawab berbagai tantangan tersebut (globalisasi dan westernisasi) ? jawabannya sangat tergantung sekali kepada hambatan-hambatan apa saja yang mempengaruhi pencapaian makna ataupun tujuan pembelajaran dalam pendidikan sejarah, hal terrsebut dapat terlihat dari system pengajarannya. Karena dengan system pengajaran yang baik seharusnya dapat membantu mencapai tujuan-tujuan belajarnya.

            Dalam menghampiri nilai-nilai moral sejarah yang diperlukan ialah dalam pengorganisasian bahan yang beraneka ragam dan metode sajian yang bervariasi dengan mengedepankan bingkai moral untuk internalisasi nilai, Pendidikan sejarah merupakan bagian integral dari usaha penanaman nilai-nilai yang fungsional untuk menanamkan pengetahuan. Dalam pengembangan kurikulum pendidikan sejarah, perlu dilakukan sesuai dengan kriteria yang dikembangkan yang sesuai dengan ciri-ciri fleksibilitas, realistik, dan berorientasi pada kepentingan ke depan. Dalam kaitan ini, pendidikan sejarah perlu mentransfer nilai-nilai etik dan moral yang mendasari cara berpikir, cara bersikap, dan berperilaku seseorang untuk mewujudkan keharmonisan kehidupan individu, kelompok masyarakat atau bangsa dalam membangun perdamaian, toleransi dan kesediaan menerima perbedaan.
            Permasalahan dalam pendidikan sejarah yang pertama ialah komponen pengajar sejarah yang minim wawasan kesejarahan, penyebab minimnya wawasan kesejarahan ini ialah karena kemalasan intelektual untuk mencari dan menggali sumber-sumber sejarah baik berupa tulisan, benda-benda, dokumen, dsb. Pengajar sejarah yang baik ialah pengajar yang mampu menghidupkan imajinasi peserta didik dalam rangka mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Permasalahan yang kedua ialah komponen peserta didik, kebanyakan peserta didik hanya berorientasi nilai dan popularitas saja. Padahal substansi sebenarnya terletak pada khazanah keilmuan yang ia pelajari dan kembangkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat diinternalisasikan. Ketiga adalah metode pembelajaran yang kurang menantang daya intelektual peserta didik seperti penggunaan metode ceramah dan dongeng yang hanya menjadikan siswa sebagai objek diluar sejarah bukan sebagai pribadi yang menyejarah. Keempat adalah komponen buku-buku sejarah dan media pengajaran sejarah, dari sini perlunya untuk membaca berbagai macam sumber buku tidak hanya satu buku saja, karena terkadang ada buku yang terlalu memihak.

            Pemecahan untuk problematika permasalahan pendidikan sejarah diatas setidaknya terdiri dari berbagai macam kegiatan, seperti menciptakan prinsip-prinsip pengajaran berorientasi masa depan dimana guru bukan lagi pusat dari pembelajaran melainkan siswa diharapkan untuk ikut serta berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Kemudian guru harus menyesuaikan situasi belajar sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa, guru harus bertugas dalam hal mengatur, mengarahkan, memberikan motivasi dan memberikan inspirasi kepada murid untuk belajar dan juga guru bertugas dalam mengarahkan dan mengevaluasi. Kemudian dalam proses belajar guru harus memilih metode, media, model serta strategi yang cocok untuk pembelajaran sejarah dengan kriteria yang bersumber kepada peserta didik.

            Hal-hal seperti yang telah dijelaskan diatas apabila proses pendidikan sejarah berjalan dengan lancar dan baik dan disertai dengan internalisasi serta aktualisasi nilai-nilai sejarah dalam kehidupan sehari-hari maka sejarah dapat dikatakan tujuan pembelajaran sejarah telah berhasil dalam membentuk masyarakat Indonesia. Kaitannya dengan westernisasi sangat berhubungan dari nilai-nilai sejarah itu sendiri, nilai-nilai sejarah memuat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, persatuan, nilai budaya yang diwariskan secara turun temurun melalui sumber primer maupun sumber sekunder yang nantinya akan dikemas menjadi suatu bahan ajar yang dipelajari peserta didik. Dan jika pembelajaran sejarah berlangsung secara optimal (tidak hanya aspek kognitif saja melainkan menyangkut afektif) maka penyampaian makna tersebut akan sampai ke diri peserta didik siswa, hingga akhirnya peserta didik mengkatualisasi nilai-nilai budaya bangsa mereka sendiri sebagai sesuatu yang mesti dibanggakan. Kesimpulannya meningkatkan wawasan kesejarahan serta meningkatkan pemahaman nilai-nilai sejarah akan mampu mengurangi dampak negative dari westernisasi, semua itu sesuai dengan fungsi lembaga pendidikan seperti yang telah disebutkan diatas.


Berkaitan dengan globalisasi, khususnya dalam pendidikan, menurut saya berkaitan dengan aspek output dan outcomes dari pembelajaran itu sendiri, karena pada dasarnya globalisasi ini ditandai dengan keterbukaan dan persaingan bebas. Oleh karena itu manusia Indonesia perlu sekali dipersiapkan dalam menghadapi persaingan sumber daya manusia dalam percaturan internasional. Hal ini mesti dilakukan dengan tindakan nyata untuk menghasilkan sumber daya manusia yang professional, tangguh, dan siap pakai. Untuk mewujudkan semua itu maka perlu adanya reformasi pendidikan maupun inovasi pendidikan sebagai salah satu cara optimalisasi standar lulusan khususnya dalam pendidikan sejarah. Seperti peningkatan kualitas kompetensi calon guru sejarah, optimalisasi penggunaan metode dan media yang menarik perhatian siswa, mengembangkan aspek afektif siswa dari setiap pembelajaran sejarah, dan sebagainya. Semua itu bertujuan agar lulusan pendidikan sejarah akan mampu bersaing dalam menghadapi seraingkaian tuntutan yang diakibatkan oleh globalisasi. Paling tidak seorang guru lulusan pendidikan sejarah pada tingkat  sekolah menengah menghasilkan para peserta didik yang memiliki wawasan nilai kesejarahan yang mampu berpikir kritis dan kreatif terhadap permasalahan yang ada pada masyarakatnya.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 12:37 AM

0 comments:

Post a Comment